Penggunaan kayu laminasi atau Glued Laminated Timber (Glulam) dalam konstruksi jembatan telah menjadi solusi estetis dan struktural yang populer. Namun, keunggulan material ini sering kali terabaikan akibat kesalahan teknis selama proses konstruksi. Kegagalan pada jembatan kayu laminasi umumnya bukan disebabkan oleh material itu sendiri, melainkan oleh kekeliruan dalam penerapan, detail sambungan, dan perlindungan terhadap lingkungan.
Salah satu kesalahan paling fatal adalah mengabaikan kadar air (moisture content) kayu sebelum dan selama perakitan. Kayu laminasi sangat sensitif terhadap perubahan kelembapan. Jika kayu dipasang dalam kondisi kadar air yang tidak stabil, akan terjadi penyusutan atau pengembangan yang tidak merata setelah jembatan berdiri. Hal ini memicu retakan internal pada lapisan laminasi (delaminasi) yang secara drastis mengurangi kekuatan struktural jembatan.
Jembatan kayu laminasi sering mengalami kegagalan pada titik sambungan. Kesalahan umum yang terjadi meliputi:
Kayu laminasi membutuhkan perlindungan ekstra terhadap paparan cuaca langsung. Banyak jembatan kayu mengalami degradasi dini karena kurangnya sistem penutup (decking) atau atap pelindung. Air hujan yang terperangkap pada permukaan atas balok laminasi akan meresap ke dalam celah-celah lem, memicu pembusukan kayu dan melemahkan daya rekat lem. Kesalahan lainnya adalah penggunaan bahan pengawet kayu yang tidak sesuai dengan jenis lem yang digunakan, yang justru dapat mengganggu integritas perekat pada proses laminasi.
Konstruksi jembatan kayu laminasi sering kali dianggap sebagai "pasang dan lupakan". Padahal, jembatan ini memerlukan inspeksi berkala untuk mendeteksi tanda-tanda awal delaminasi, serangan serangga, atau kebocoran pada sambungan. Banyak kegagalan terjadi karena pemilik proyek mengabaikan jadwal perawatan rutin yang seharusnya dilakukan setiap satu atau dua tahun sekali, terutama pada bagian yang sulit dijangkau.
Kesalahan fatal lainnya sering terjadi di tahap fabrikasi yang terbawa hingga ke lapangan. Jika tekanan saat laminasi tidak merata atau suhu lingkungan saat pengaplikasian lem tidak terkontrol, ikatan antar lapisan kayu tidak akan mencapai kekuatan maksimal. Saat dipasang di lapangan, beban hidup (kendaraan atau pejalan kaki) akan memberikan tekanan tambahan pada titik-titik lemah tersebut, yang dapat mengakibatkan keruntuhan struktural secara tiba-tiba.
Membangun jembatan kayu laminasi memerlukan presisi yang tinggi. Kesalahan dalam penerapan kayu laminasi, baik dari segi teknis penyambungan maupun perlindungan pasca-konstruksi, dapat memperpendek usia layanan jembatan secara signifikan. Penggunaan tenaga ahli yang memahami karakteristik khusus material kayu laminasi serta kepatuhan terhadap standar prosedur operasional adalah kunci utama untuk menjamin keamanan dan ketahanan jembatan kayu dalam jangka panjang.